Minggu, 13 Maret 2011

Makanan Nabati tidak Membawa Kematian

Oliver Pada kunjungannya ke rumah jagal Dave Gifford, seorang mahasiswa dari Trinity College, Connecticut melukiskan kondisi sapi-sapi yang akan disembelih seperti disaksikannya untuk pertama kalinya. ‘ Korban berikutnya didorong ( masuk ke tempat jagal ) dengan menggunakan batang listrik bertegangan tinggi. Bagian ini paling memakan waktu karena ternak sepenuhnya menyadari apa yang menunggu mereka di depan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak masuk ke dalamnya. Simptom fisik teror begitu jelas di wajah setiap ekor sapi….. teror yang menjadi sedemikian mendalam dan mendalami. Mereka bisa mencium bau darah, dan melihat sahabatnya dipotong-potong tubuhnya. Selama beberapa detik terakhir dalam hidupnya, mereka berontak sekuat-kuatnya. Keempat sapi yang kematiannya saya saksikan sendiri menunjukkan usaha melarikan diri ke langit-langit satu-satunya arah yang tidak diblokir oleh pintu baja. Hingga kematian datang dengan tembakan senjata di atas kepala mereka…. Saya pikir seharusnya jelas, ada cara lain untuk memberi makan kepada diri kita sendiri.’ Sapi-sapi yang menunggu pembantaiannya seakan telah gila karena teror yang demikian mencekam diri mereka. Saking kalapnya karena didorong ketakutan yang luar biasa, mereka seakan ingin terbang ke langit-langit ruang jagal karena itulah tempat satu-satunya yang memungkinkan untuk melarikan diri. Tetapi sapi-sapi tidak memiliki sayap. Mereka hanya bisa menunjukkan ekspresi yang akan sama jika manusia dihadapkan kepada kondisi serupa. Berusaha dengan segala cara, mungkin atau tak mungkin untuk melarikan diri. Berentet di koridor baja yang sempit dan tidak kemungkinan gerak bebas, menunggu giliran untuk dijagal. Pada saat yang sama mereka bisa mendengar suara lenguhan moo dari teman-temannya yang ketakutan, kesakitan, jeritan minta tolong. Bau amis darah menyengak hidung mereka dan mereka melihat badan teman-temannya dijagal dan dipisahkan satu per satu. Pemandangan yang dilukiskan Pendeta Roysebagai ‘ sungguh memuakkan '
Jika kita tergerak untuk bertanya tentang siapa yang  bertanggung jawab atas kesakitan, teror, ketakutan, penderitaan, dan kematian makhluk-makhluk yang begitu lembut, maka kita akan menemukan betapa benarnya ujaran Ralph Waldo Emerson ( 1803-1883 ), ‘ Dalam makan malam, dan bagaimana rapinya rumah jagal tersembunyi bermil-mil jauhnya, keterlibatan Anda di sana akan tercium.’ Meskipun sebagian besar dari kita tidak pernah mengunjungi rumah jagal, tetapi kematian di sana berkaitan begitu langsung dengan setiap konsumen. Dengan segala kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan atas makhluk lain yang tidak merugikan kita, tidak mencelakakan kita, tidak mengancam masa depan kita dan anak-anak kita, apa yang telah kita lakukan sebenarnya. Kita menghambat kemajuan spiritual kita sendiri. Seperti dikatakan oleh tokoh besar dunia, Mahatma Gandhi bahwa kemajuan spiritual menuntut kita, pada tahap tertentu, menghentikan perbuatan membunuh sesama makhluk demi memuaskan keinginan tubuh kita.